Lama Prabu Brawijaya duduk terpekur, mengatur pikiran dan
perasaannya. Baginda telah jelas menerima perintah dewa dewa. Waktu
pergi telah datang. Waktu yang telah lama dinanti nantikan. Tetapi
mengapa datangnya masih terasa tiba-tiba. Baginda terpekur, mengatur
perpisahannya, diikuti oleh semadi yang Iebih khidmat, lebih tenang dan
tenteram. Baginda bersedia moksa. Di angkasa terdengar suara yang
meledak, yang keras tiada tara. Seluruh kota Majapahit
berguncang-guncang. Makin lama makin pekat .. . makin pekat. Sri Baginda
telah moksa dengan seluruh istananya. Semua keluarganya, isteri-isteri
dan anak-anak yang masih belum dewasa dibawa serta oleh Baginda, pindah
ke kerajaan yang baru. Kata orang yang tahu akan alam yang gaib, Sri
Baginda pindah ke gunung Lawu, dan berganti gelar menjadi Sunan Lawu
Keesokan harinya, pada waktu ayam mulai berkokok, R. Bondan Surati
dengan dua orang pelayannya bernama Kanta dan Kanti masuk ke istana
hendak menghadap Baginda, tetapi didapatinya istana telah hilang, yang
tinggal hanyalah sebuah danau tepat di tempat istana dahulu. Rasa kosong
merayap ke dalam hatinya. Ia merasa, bahwa Sri Baginda telah
melarangnya melawan musuh, buktinya tiada sebuah pusaka pun yang
tertinggal. Oleh karena itu ia berniat meninggalkan kerajaan, hanya
diikuti oleh Kanta dan Kanti.
Tetapi sebenarnya masih ada yang ditinggalkan Sri Baginda, yaitu
permaisuri Dwarawati, karena permaisuri itu telah Islam dan tinggal di
istana yang lain yang bernama Gentan.
Delapan hari kota Majapahit diliputi oleh kegelapan. Telah tersiar
bahwa prabu Brawijaya telah moksa. R. Bondan Surati telah lolos. Para
adipati di bawah pimpinan Arya Simping memutuskan untuk menyerah .
Bahkan Ratu Dwarawati menyetujui putusan itu . Hanyalah putera-puteri
Baginda tidak mau menyerah dan melarikan diri pada waktu malam. Oleh
karena itu segera mereka mengumpulkan senjatanya untuk diserahkan kepada
senapati Bintara.
Pada hari yang baik dengan tak bersenjata sebilah pun para dipati
di bawah pimpinan Arya Simping menyambut tentara Bintara dan langsung
menemui Patih Wanasalam, yang membawa mereka menghadap Adipati Natapraja
untuk menyatakan takluknya. Sang adipati sangat heran mendengar, bahwa
Sri Baginda telah moksa. Iapun sangat sedih, ingat bahwa Sri Baginda itu
masih ayahnya sendiri.
Sunan Lawu menurut wikipedia, beda lagi ,
Sebagian kisahnya sbb:Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan
hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan
keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu.
Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun
yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia
dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun
pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah
saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai
ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa
gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat
hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung
Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan
pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala,
kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan
diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga
pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan
meninggalkan Sang Prabu di sini.
Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan
Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa
gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya
kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan
tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
dan mungkin masih ada beberapa versi lagi mengenai Sunan Lawu yang tidak kami wedar disini… wallahualam bishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar